Senin, 16 Februari 2015

JUDGEMENTAL

Hello!

       “JUDGEMENTAL”. You know about judgemental? Or judge? Yes you know dan mungkin kalian juga pernah melakukannya, yakan? Gue rasa iya karena namanya aja judge yang artinya menilai, mengkritik, mengadili, dll. So, kenapa gue excite untuk ngebahas ini untuk alasan yang pertama karena gue udah ngerasa gerah dengan tindakan-tindakan orang di social media yang asal-asalan menilai/mengkritik seseorang yang hanya dari covernya, ya seharusnya gak usah ditanggepin sih ya orang mau melakukan apapun di social medianya atau mau melakukan apa pun ya itu hak dia, tapi gregetan liatnya ya jadi lah gue ngetik kata-kata yang ada di blog ini. Kadang lo suka ngerasa bingung ga sih liat kelakuan orang-orang di socmed yang suka berblablabla and bla, kadang juga  ada orang-orang yang gak ngerti apa sih sebenernya yang lagi gue blablabla-in itu, tapi orang itu asal-asalan menilai dengan keilmuan yang agak kurang dan mungkin aja dia gak tahu dasar yang dia jadiin untuk bisa menilai orang itu. Hmm.. gini deh contohnya lo mau putusin pacar lo, tapi lo gatau dasarnya, masuk akal ga? Trus lo tetep jadi putus ga? Gue rasa ngga. Kenapa? Ya logika aja masa iya gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba minta putus mustahil kalau gak ada sebabnya pasti ada ya kalau gak karena ada wanita idaman lain, atau mungkin sifatnya yang udah agak kurang wajar atau apalah, sama aja kayak banjir. Banjir itu gak mungkin datang tiba-tiba. Banjir itu pasti ada sebabnya ya mugkin sungainya meluap, kenapa sungai meluap? Bisa aja kiriman dari Bogor yang udah sehari semalam hujan gak berhenti-henti, ini dasar kenapa bisa terjadinya banjir. Jadi, jelas banjir itu datang bukan karena tiba-tiba, tapi memang karena ada dasarnya begitu juga dengan judge, ya lo boleh aja nilai orang ini itu segala macam, tapi jangan lah sampai ngusik banget toh selama orang itu gak ngerugiin lo ya kenapa lo mesti sibuk? Kayak yang gue lakuin saat ini, memang sih kalian tidak mengganggu CUMA sedikit merusak pemandangan di dunia socmed gue (gampangnya gue gausah follow kalian-kalian yang suka ngejudge, tapi pada kenyataannya tanpa di follow kalian tetap masuk wilayah gue). Contoh lain itu Aurel, dengar kabar dari yang gue liat banyak yang bilang doi operasi lah, suntik ini lah suntik itu lah terus orang-orang pada sibuk bikin gambar di collage ngebandingin aurel yang dulu dengan yang sekarang, trus ngomongin dia ini itu sampai dia sekarang jadi cantik. Oh common guys! Buka pikiran kita semua, siapa sih cewek didunia ini yang gak mau terlihat sempurna? Sekalipun kesempurnaan itu Cuma untuk dikonsumsi sendiri. Jangan jadi manusia yang sirik sama kelebihan/apa yang orang lain lakuin. Terkadang ngejudge sama iri itu beda tipis men. Lo bayangin deh kalau se-Indonesia Raya punya sifat judgemental yang lebih mendekati ke iri, wiiiih ancur, Rek! gak ada damai-damainya nih Indonesia.

         Contoh lain ya karena tempo yang lalu lagi semarak PILPRES ya gue juga gak bisa bilang secara mutlak ini judge atau apa cuma karena dari PILPRES ini kita tahu bahwa mayoritas sifat/sikap masyarakat Indonesia rata-rata sama. Sama disini dalam arti banyak bicara, sedikit informasi, bicara sering tanpa bukti, mudah terpengaruh, emosi mudah melonjak, dst. Agree with me? Ya masalah setuju atau ngga ya itu hak lo semua. Disini gue Cuma mau maparin gimana sih gak baiknya jadi orang yang punya sifat judgemental, tapi kalau judgenya dipakai dalam hal negatif. Ya gak masalah kalian mau segimana jugdenya Cuma coba dipikirin lagi sama apa yang lo lakuin itu, jangan sampai deh apa yang lo lakuin terutama ngejudge itu bikin orang muak temenan sama lo. Lagi pula judgemental itu bukan sifat bawaan kok. Judgemental itu bawaan dari orang-orang disekitar lo, percaya deh. Gini deh coba lo liat sekitar lo, terutama teman-teman sekumpulan lo itu, end then lo nilai cara pergaulan lo itu sehat atau ngga. Seumpama gak sehat coba lo analisis dari sisi mana gak sehat itu, dan minta pendapat temen sekitar lo yang berada dari luar lingkar pertemanan lo sebenernya cara pertemanan lo itu kayak gimana jangan sampai orang diluar lingkar pertemanan lo nganggap bahwa pertemanan lo itu gak sehat dan lo beserta teman-teman lo itu nganggap bahwa pertemanan yang kalian jalin itu yang terbaik. Hmm, mungkin sederhananya gini seumpama lo punya geng (bukan geng motor ) geng lo itu suka banget atau fanatik sama “RUMPI” atau bahasa alusnya “ngomongin orang” kebayang dong kalau lo sekali aja gak ikut gabung di geng lo gimana?. Kenapa sih ngambil contohnya geng yang punya hobi rumpi? Karena dari rumpi-rumpi yang ngalor ngidul tanpa tujuan itu akan menghasilkan suatu judge. Percaya ga? Coba lo buktiin sendiri.


           Jadi, pada intinya gue sih Cuma mau mengutarakan ke kalian yang baca postingan ini supaya menghindarkan sikap jugde itu. Gak guna banget ngejugde ini itu yang kebenarannya aja gak valid dan apalagi yang lo judge itu suatu yang pada awalnya akan bernilai baik, tapi karena hasil judge yaaaa... you know lah jadinya. Jadi, menurut gue kalau masih bisa mengunci mulut ya kenapa ngga, kecuali kalau lo disuruh mengutarakan pendapat lo dari sisi kacamata penglihatan lo, baru deh lo utarain. Beda loh disuruh ngasih pendapat dengan asal judge, kalau disuruh ngasih pendapat kan diminta untuk menilai sesuatu kalau judge gak ada yang minta, tapi menilai sendiri alias komentar sendiri. By the way, sekian dulu postingan ini, kalau gak cocok bisa ngisi kolom komentar kok! Have fun! J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar