Selasa, 22 April 2014

NEGERI atau SWASTA?

Gak setuju bisa comment!! 

Entah kenapa 2 kata ini selalu melekat dengan anak-anak tingkat akhir disetiap sekolah yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Sama halnya dengan saya yang kini tengah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi ptn se-Nasional. Takut, down, khawatir, nerveous, deg-degan, panas dingin, semua telah terasa detik ini walau test itu masih 1 minggu lagi. Perasaan ini memang pantas untuk dirasakan untuk semua pelajar Indonesia menjelang hari H bahkan pada hari Hnya pun. Sebenarnya semua perasaan itu gak perlu dirasakan jika latihan sebelum hari H telah maksimal, tapi sebenarnya jika rasa itu tidak dirasakan oleh seorang peserta sesungguhnya itu pertanda tidak baik (mungkin hanya u/ sebagian orang saja). Mengesampingkan perasaan gugup, nerveous dll, beralih kembali pada negeri dan swasta. Kita semua tentu sudah sama-sama tahu dan tidak dapat dipungkiri dengan berita yang beredar dan mungkin tidak hanya sekedar rumor bahwa lulusan-lulusan berlabel negeri sangat diutamakan untuk dunia pekerjaan, karena memang pada akhirnya siapa pun kamu akan terjun dan merasakan dunia pekerjaan, dunianya orang-orang dewasa. Ya! Berita itu memang tidak secara langsung saya dapatkan dari salah satu sumber namun saya mendapatkan dari teman saya, dan tidak hanya satu atau dua yang mengatakan. Mungkin memang benar adanya kalau negeri memang memegang untuk sebuah kualitas, lantas bagaimana dengan swasta? Disinilah saya akan sedikit berceloteh mengenai "negeri atau swasta". 
Ini mind set saya sebelum Ujian Nasional berlangsung : 

"gue harus masuk di ptn dan bukan pts bagaimana pun itu caranya entah snmptn/sbmptn/UM" 

Mungkin tak ada bedanya mind set saya dengan kalian-kalian yang ingin menjadi yang terbaik. Namun ada suatu kekecewaan yang merubah mindset saya menjadi : 

"Kalo gue diterima bersyukur, kalo gak gue harus bangkit" 

Kenapa bisa berubah?????? 
Simple aja sih ya kenapa saya secepat kilat mengubah mindset saya, karena 
pertama saya kecewa dengan hasil snmptn yang dengan nyata-nyata saya mendapat kata "MAAF,....." Tandanya saya ditolak di PTN untuk jalur penerimaan yang pertama dan sebenarnya kesempatan diterima di jalur pertama ini sangat besar namun sayang strategi yang digunakan menghasilkan nol besar. 
Alasan kedua saya down-se-down-downnya sampai saya mendapatkan pikiran untuk mencari hal yang aman yaitu "udah gue gak usah ikut tes tertulis gue ambil swasta aja". Ini semua terjadi bukan hanya pada diri saya tapi banyak khalayak juga (yang down bukan pemikiran). 
Alasan ketiga saya yaitu saya termotivasi dari seorang yang telah berpengalaman dan ia berumur 22 tahun, tahun ini. Ia mendapat kata "MAAF,.." Dari ptn lebih dari 3x tapi bukan karena ia tidak mampu, namun karena perjanjiannya dengan Sang Pemilik Hidup lah yang memang tidak menggariskan hidupnya untuk di negeri namun di swasta. Kalimat yang ia ucapkan dan ini sangat memotivasi "kalo gue, lebih bangga gue jadi berlian di tempat biasa daripada gue jadi biasa di tempat berlian". Rupanya memang benar kata si kakak ini untuk apa saya harus benar-benar menjatuhkan diri saya di mulut buaya jika saya bisa menjatuhkan diri saya di tengah hamparan bunga yang indah. Dan kakak ini tidak seperti saya yang baru satu kali ditolak sudah down, dia tidak. Dia memang membuktikan kalau dirinya memang bisa sukses dan dibuktikannya dengan Indeks Prestasi (IP) yang didapatkan melebihi dari cukup dan bisa terbilang sulit untuk didapatkan di jurusan tersebut. 
Alasan keempat yaitu karena setelah saya telusuri dan saya simpulkan dari pembicaraan teman-teman, hampir rata-rata mengincar negeri ada yang karena tetap mempertahankan gengsi (teman saya tidak mengutarakan langsung) ada yang karena "agar tidak terlalu memberatkan biaya sama orang tua", ada juga yang karena keinginan orang tua, dan masih banyak lagi. 
Alasan kelima dan inilah alasan terakhir, ada hubungannya dengan alasan yang keempat yaitu masuk negeri dengan jurusan apa saja yang penting masuk negeri dulu tidak perlu jurusan yang diambil, kalau saya pribadi berpikir yaa untuk apa saya terjun dalam satu program yang pada dasarnya hanya ingin mengejar title padahal tujuannya kuliah itu untuk lebih mengkhususkan keahlian dan peminatan kita (bisa dicomment untuk persepsi yang ini). 

Mungkin 5 alasan saya tidak terlalu mengena sampai ke akar, namun itu semua hanya segelintir dari yang saya rasa dan saya amati selama beberapa pekan ini. Tidak hanya mind set namun tekad saya pun sekarang berganti jika saya memang mendapati penolakan untuk kedua kalinya, yaitu: 

"kalo gue ditolak (lagi) di negeri, gue akan buktiin sama negeri kalo gue nih yang pernah lo (negeri) tolak akan sukses di swasta" 

Setelah alasan yang saya utarakan mungkin sudah waktunya untuk kita pelajar Indonesia untuk tidak terpuruk dalam jangka waktu yang lama jika ditolak (lagi) namun jangan terlalu membanggakan diri karena telah diterima di negeri karena rintangan baru akan dimulai, ringannya pengusaha yang sukses saja 7x ia harus merasakan sakitnya jatuh dan kemudian ke8nya ia bangkit menjadi "manusia", masa iya kita yang baru pertama ditolak tidak cepat-cepat merapihkan apa yang seharusnya kita perjuangkan. Negeri memang boleh terus diutamakan, namun hal itu tidak menutup kemungkinan untuk swasta bisa lebih maju. Saya bukan memihak ke swasta atau negeri, namun apa yang terjadi di hasil seleksi snmptn membuat saya banyak membuka mata bahwa saingan saya bukan 1 daerah melainkan 1 Indonesia, jadi saya menyesal pun ya percuma hasil tetap "MAAF,.." dan tidak akan berubah "SELAMAT,...". Terpenting dari hidup ini adalah "REZEKI TIDAK AKAN TERTUKAR" jadi mau negeri diunggulkan atau selangkah lebih maju dari swasta tetap santai saja dan jalani dengan tekun apa yang sedang dijalani dan diusahakan, karena rezeki tidak akan tertukar. 

Cepat atau lambat khalayak pun akan melupakan dimana dirimu berada, karena tengah sibuk dengan dunia barunya, dan didunia baru (perkuliahan) hanya ada dua pilihan yaitu "ingin cepat menjadi orang" atau "ingin menjadi mahasiswa abadi" semua itu ada ditangan kalian, dan nanti setelah lulus dan menjadi "orang" (jika di swasta) mungkinkah orang akan bertanya "emang lo lulusan mana? Akreditasinya apa?" Kemudian kamu seperti diremehkan. Kalau iya adakah yang menjamin orang-orang yang berada di negeri mendapatkan kesuksesan secara lancar? Itu semua hanya dapat terjawab dengan kata "iya kali, tapi gak tau deh". 

Ini hanya sebuah anggapan dan pandangan kalian boleh merencanakan, tapi ingatlah janji yang telah kalian buat dengan Sang Pencipta saat dikandungan, yang direncanakan belum tentu terbaik untuk kita. Usaha tetap dilakukan namun usahamu jangan sampai membuat kamu menutup mata dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. 

Usaha ini akan berhasil nasib kita yang tidak dapat diubah. Swasta atau Negeri sejatinya sama saja yang terpenting adalah fokus untuk mengejar apa pun yang kita inginkan dan jangan pernah menyalahkan keadaan setelah kita menerima hasil yang berupa nasib kita. Satu poin terakhir yang benar-benar harus diingat adalah PROSES. Inginkan menjadi manusia? Berproses lah. 

Sekian :)